Terhitung Tapi Tidak Terwakili

Bosan.

Kata itu yang muncul setiap kali membaca literatur politik kontemporer. Bukan karena ia dangkal, tetapi karena ia terlalu rapi. Segalanya telah diberi tempat, dikategorikan, dan dijelaskan. Pada titik ini, tidak mengherankan jika aktivitas menulis bahkan berpikir tampak dapat digantikan oleh mesin yang mesimulasikan kecerdasan.

Persepsi itu runtuh ketika saya membaca Alain Badiou. Pada permukaannya, tulisannya serupa paparan teoretis akademik yang terstandarisasi. Tenang. Sistematis. Nyaris steril. Namun, semakin dalam dibaca, semakin terasa adanya sesuatu yang tidak diselesaikan.

Di balik ketenangannya, terdapat kegelisahan yang disengaja. Badiou tidak memberikan kenyamanan konseptual, melainkan memaksa pembacanya berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya direpresentasikan. Dan justru di situlah daya tarik tulisannya bekerja.

Ketidakteraturan.

Bila berbicara negara mungkin kata “mengatur” adalah kata yang  mengekor dibelakangnya. Mengatur ini adalah sebuah perangkap karena negara beroprasi seperti mesin representasi yang idak pernah cukup. Masalahnya bukan karena negara terlalu ingin mengatur, tetapi karena ia hanya dapat bekerja dengan cara mengatur, menghitung, menyatukan, dan menamai keberadaan yang pada dasarnya tidak pernah utuh.

 Obsesi mengeratkan elemen-elemen ini yang nantinya menjadi penyakit. Terjebak dalam persepsi bahwa suatu badan dapat mewakili keseluruhan organ adalah celah keretakan. Bagaimana bisa arteri, vena dan kapiler bisa direduksi fungsinya dengan apa yang kita sebut “badan”.

Dalam hal ini, bukan menolak “badan” melainkan menolak ilusi bahwa tubuh pernah benar-benar identik dengan organ-organ yang diklaimnya. Terdapat sisa-sisa yang tidak terhitung jumlahnya yang sering kita sederhanakan menjadi satu. Terpinggirkan dan tidak terhitung dalam suatu sistem perwakilan. Ini yang menjadi batu pondasi kritik Badiou.

Representasi bukan berarti lebih benar melainkan lebih ekspansif, dominan, dan menutup kemungkinan-kemungkinan. Hasilnya adalah mereka yang tidak direpresentasikan secara tepat akan dinetralisir secara politik. Di sinilah tampak jejak dari apa yang oleh Badiou disebut sebagai Void.

Sebuah kekosongan, yang ada namun tidak terhitung sebagai ada. Mereka yang ditinggal oleh sebuah sistem yang selalu menghitung lebih banyak tentang kita daripada yang benar-benar hadir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.